AL-ZAYTUN – Gedung Serbaguna Al-Akbar bersalin rupa menjadi ruang kreatif yang hidup pada Selasa (03/02/2026). Ribuan pasang mata menjadi saksi perhelatan bertajuk "Penampilan Teater dan Pameran Seni Lukis" yang diinisiasi oleh Organisasi Pelajar Ma’had Al-Zaytun (OPMAZ) Darma Bakti 22. Acara ini bukan sekadar unjuk bakat, melainkan sebuah manifesto seni yang menyuarakan isu sosial dan lingkungan secara mendalam.
Harmoni Visual dan Gerak
Lobi gedung disulap menjadi galeri yang memamerkan deretan lukisan karya santri, menyambut pengunjung dengan atmosfer artistik bahkan sebelum tirai panggung dibuka. Suasana semakin hangat saat tarian tradisional dan kontemporer yang dinamis membuka rangkaian acara dengan penuh energi.
Presiden OPMAZ Darma Bakti 22, Salman Al-Farizi, mengungkapkan bahwa kolaborasi yang melibatkan ribuan pelajar ini adalah bukti nyata soliditas generasi muda Al-Zaytun. Kehadiran sepuluh besar kandidat Presiden OPMAZ periode berikutnya juga memberikan sinyal estafet kepemimpinan yang tetap menjunjung tinggi kreativitas dan standar organisasi yang tinggi.
Seni Sebagai Senjata Moral
Menteri Seni, Olahraga, dan Budaya OPMAZ DB 22, Shaszya Agneta, dalam sambutannya mengajak rekan-rekan pelajar untuk menggunakan seni sebagai medium menyuarakan kebenaran. Ia menekankan bahwa pementasan ini bertujuan membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki nurani yang tajam dan keberanian untuk membela nilai-nilai kemanusiaan.
"Guardian of Nusantara": Jeritan Alam dan Kebangkitan Kesadaran
Puncak acara ditandai dengan pementasan teater bertajuk "Guardian of Nusantara" yang dikoordinatori oleh Wais Hadi. Berlatar dua lukisan raksasa mahakarya tim ekstrakurikuler seni lukis, drama ini membidik isu sensitif: krisis lingkungan dan tanggung jawab menjaga bumi.
Alur ceritanya menggambarkan kontras yang getir antara harmoni masyarakat dan keserakahan pihak-pihak yang mengeksploitasi alam demi kepentingan pribadi. Secara dramatis, pertunjukan ini memotret bagaimana kerusakan ekosistem merusak tatanan hidup, yang kemudian memicu aksi protes heroik masyarakat sebagai simbol kebangkitan para "penjaga" tanah air.
Sekilas Produksi & Apresiasi
Penyelenggara: Kementerian Seni, Olahraga, dan Budaya OPMAZ Darma Bakti 22.
Kolaborasi Pemeran: 41 pelajar Madrasah Aliyah (MA) dan 6 pelajar Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Animo Penonton: Dihadiri oleh 2.634 penonton, termasuk jajaran guru dan pengurus KOSMAZ.
Kemandirian Kreatif: Seluruh properti panggung diproduksi secara mandiri menggunakan anggaran OPMAZ, membuktikan kemandirian dan kreativitas tangan para pelajar.
Refleksi Akhir
Saat lampu panggung meredup, pesan yang tertinggal terasa sangat kuat: seni di Ma’had Al-Zaytun telah menjadi jembatan antara kecerdasan intelektual dan kepekaan spiritual. Melalui Guardian of Nusantara, para pelajar membuktikan diri sebagai agen perubahan yang mampu menyuarakan kebenaran dan menjaga harmoni alam sebagai bentuk ibadah yang nyata. (Izzuddin/Humas MA/2026)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar