Senin, 26 Januari 2026

Gema Lagu Perjuangan Iringi Ribuan Civitas Al-Zaytun dalam Olahraga Kebugaran Kaki 4,9 KM

AL-ZAYTUN — Kawasan Ma’had Al-Zaytun kembali diramaikan oleh ribuan civitas akademika yang mengikuti rutinitas Olahraga Kebugaran Kaki (OKK) pada Minggu pagi (25/1/2026). Momentum pekanan ini terasa berbeda dengan kehadiran ekonom sekaligus akademisi dari Universitas Brawijaya, Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D., yang turut membaur di tengah barisan.

Tepat pukul 06.00 WIB, massa mulai bergerak dari Stadion Palagan Agung. Peserta yang terdiri dari eksponen Yayasan Pesantren Indonesia (YPI), dosen, mahasiswa, Guru, Relawan, Wali Pelajar, hingga santri dari jenjang MI sampai MA ini menempuh rute sejauh 4,9 kilometer. Jalur yang dilalui membentang dari Jalan JAMMAS, melintasi kemegahan Jembatan JAMMAS, hingga kembali ke titik finis di Stadion Palagan Agung dalam waktu tempuh tepat satu jam.

Suasana di sepanjang lintasan terasa heroik. Di bawah rimbunnya pepohonan, para santri melangkah tegap sembari menyanyikan lagu-lagu perjuangan seperti "Halo-Halo Bandung", "Garuda Pancasila", dan lainnya. Gema nyanyian yang dibawakan secara serempak ini tidak hanya memecah keheningan pagi, tetapi juga menjadi pemacu ritme langkah kaki yang membakar semangat nasionalisme peserta.

Prof. Setyo Tri Wahyudi, yang hadir sebagai narasumber Pelatihan Pelaku Didik Pekan ke-34, tampak antusias mengikuti jalannya kegiatan. Baginya, sinkronisasi antara ketajaman intelektual dan ketahanan fisik adalah kunci penting dalam dunia pendidikan.

"Kesehatan fisik adalah fondasi utama. Melalui OKK yang dibalut semangat nasionalisme ini, kita tidak hanya menjaga raga, tetapi juga merawat memori kolektif akan perjuangan bangsa," ujar salah satu Guru Pembimbing di sela-sela barisan.

Filosofi di Balik Langkah Kegiatan OKK bukan sekadar olahraga biasa, melainkan implementasi nyata dari filosofi bashthotan fil ‘ilmi wal jismi—keunggulan dalam ilmu sekaligus fisik—yang diinisiasi oleh Syaykh Al-Zaytun. Pelibatan lagu-lagu nasional selama perjalanan menjadi metode pendidikan karakter untuk menanamkan rasa cinta tanah air sejak dini.

Lebih dari itu, agenda rutin setiap hari Ahad ini menjadi ruang silaturahmi dan konsolidasi yang hangat antara pimpinan institusi, staf pengajar, dan para santri dalam balutan disiplin dan kegembiraan. (HUMAS MA/2026)











Rabu, 21 Januari 2026

Menyongsong Masa Depan: Antusiasme Siswa MA Al-Zaytun dalam Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru IAI AL-AZIS

AL-ZAYTUN — Malam itu, Lantai 1 Asrama Al-Fajr bukan sekadar ruang pertemuan biasa. Puluhan pasang mata berbinar menatap layar presentasi, tangan-tangan sibuk mencatat, dan pertanyaan demi pertanyaan meluncur penuh rasa ingin tahu. Ini adalah potret generasi muda yang tengah memetakan masa depannya, khususnya para siswa kelas XII MIPA 2 dan XII IPS 2 Madrasah Aliyah Al-Zaytun yang menghadiri sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI AL-AZIS).

Jembatan Menuju Pendidikan Tinggi Islam

Acara yang berlangsung pada Rabu malam, 21 Januari 2026, pukul 19.00-20.00 WIB ini bukan sekadar rutinitas akademik menjelang kelulusan. Lebih dari itu, ini adalah momen krusial bagi para siswa yang tengah berada di persimpangan jalan antara masa sekolah dan kehidupan kampus. Dalam satu jam yang padat namun mengalir, mereka diajak menyelami berbagai peluang dan prospek yang ditawarkan oleh institusi pendidikan tinggi Islam yang tengah berkembang ini.

Kehadiran dua sosok penting dari jajaran pimpinan IAI AL-AZIS menunjukkan keseriusan institusi dalam menjaring calon mahasiswa berkualitas. Ibu Fitri Rachmiati Sunarya, M.B.A., Wakil Rektor Bidang Akademik, hadir membawa perspektif strategis tentang visi pendidikan kampus. Di sisinya, Bapak Muhammad Isa Asyrofuddin, S.H., M.Sos., Ketua Program Studi Hukum Tata Negara (HTN), memberikan gambaran konkret tentang salah satu program studi unggulan yang tersedia.


Lebih dari Sekadar Presentasi

"Kami tidak hanya ingin memberikan informasi, tetapi membuka dialog," ujar Ibu Fitri dalam sambutannya. Pernyataan itu terbukti nyata. Sepanjang acara, atmosfer yang tercipta jauh dari kesan formal dan kaku. Panitia sosialisasi berhasil menciptakan suasana yang hangat namun tetap profesional, memungkinkan siswa untuk bertanya tanpa beban.

Para siswa, yang sebagian besar masih berusia 17-18 tahun, menunjukkan antusiasme yang menggembirakan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mencerminkan kematangan berpikir: mulai dari prospek karier lulusan HTN, sistem pembelajaran di kampus, hingga peluang beasiswa dan pengembangan softskill. Ini bukan generasi yang pasif menerima informasi, melainkan generasi yang aktif mencari dan menggali.


Program Studi HTN: Mencetak Ahli Hukum Islam Berintegritas

Salah satu sorotan utama dalam sosialisasi ini adalah pengenalan Program Studi Hukum Tata Negara. Bapak Muhammad Isa Asyrofuddin menjelaskan dengan gamblang bagaimana prodi ini dirancang untuk menjawab kebutuhan zaman akan ahli hukum yang tidak hanya menguasai aspek teknis yuridis, tetapi juga memahami nilai-nilai keislaman dan ketatanegaraan Indonesia.

"Di era digital dan globalisasi ini, kita membutuhkan sarjana hukum yang mampu menjembatani antara syariah dan konstitusi, antara idealisme Islam dan realitas berbangsa," jelasnya. Paparan tersebut disambut dengan anggukan-anggukan kepala dari para siswa, terutama mereka yang berasal dari kelas IPS 2 yang memang memiliki ketertarikan lebih pada ilmu sosial dan hukum.

Namun, siswa MIPA 2 pun tak kalah antusias. Beberapa di antara mereka mengaku tertarik dengan pendekatan interdisipliner yang ditawarkan, di mana pemikiran logis dan analitis yang mereka asah di jurusan sains bisa diterapkan dalam menganalisis persoalan hukum dan ketatanegaraan.


Membangun Kesadaran Sejak Dini

Penyelenggaraan sosialisasi di lingkungan asrama, khususnya Lantai 1 Asrama Al-Fajr, memiliki makna tersendiri. Lokasi ini bukan hanya strategis secara fisik, tetapi juga simbolis. Asrama adalah tempat di mana siswa belajar tentang kemandirian, disiplin, dan kehidupan bersama—nilai-nilai yang juga akan mereka butuhkan di bangku kuliah.

Wakil Rektor Bidang Akademik, Ibu Fitri, menekankan pentingnya persiapan mental dan akademik sejak dini. "Transisi dari SMA ke perguruan tinggi bukan sekadar perpindahan jenjang pendidikan, tetapi juga transformasi cara berpikir dan bertindak. Kami ingin memastikan bahwa calon mahasiswa kami siap untuk perubahan itu," katanya.


Keteraturan dan Kedisiplinan: Cermin Budaya Kampus

Salah satu hal yang mencuri perhatian adalah bagaimana acara berlangsung dengan tertib dari awal hingga akhir. Panitia sosialisasi, yang sebagian besar adalah mahasiswa aktif IAI AL-AZIS, menunjukkan profesionalisme dalam mengelola waktu dan mengatur jalannya acara. Mereka memastikan setiap sesi berjalan sesuai jadwal, namun tetap memberikan ruang yang cukup untuk interaksi.

Keteraturan ini bukan kebetulan. Ini adalah refleksi dari budaya kampus IAI AL-AZIS yang mengutamakan disiplin tanpa menghilangkan kehangatan dan kekeluargaan. Para siswa MA Al-Zaytun, yang juga sudah terbiasa dengan sistem pondok pesantren yang terstruktur, tampak nyaman dengan atmosfer tersebut.


Antusiasme yang Menular

Sepanjang satu jam, tidak ada satupun siswa yang terlihat bosan atau tidak fokus. Bahkan ketika sesi sudah memasuki menit-menit terakhir, tangan-tangan masih teracung ingin bertanya. Panitia harus dengan bijak membatasi sesi tanya jawab agar acara tidak melebihi waktu yang telah ditentukan, sambil berjanji akan membuka forum diskusi lanjutan bagi mereka yang masih penasaran.

"Ini pertama kalinya saya merasakan sosialisasi kampus yang benar-benar interaktif," ujar salah seorang siswa kelas XII MIPA 2 seusai acara. "Biasanya kami hanya mendengarkan presentasi satu arah. Tapi malam ini berbeda. Kami benar-benar merasa didengar dan dihargai sebagai calon mahasiswa."


Menatap Masa Depan dengan Optimisme

Sosialisasi ini adalah langkah awal dari rangkaian panjang proses penerimaan mahasiswa baru IAI AL-AZIS tahun 2026. Bagi para siswa kelas XII, ini adalah kesempatan emas untuk mengenal lebih dekat salah satu pilihan studi mereka setelah lulus nanti. Bagi IAI AL-AZIS, ini adalah investasi dalam membangun generasi sarjana Islam yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.

Ketika acara ditutup tepat pukul 20.00 WIB, para siswa tidak langsung bergegas meninggalkan ruangan. Mereka masih berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, mendiskusikan apa yang baru saja mereka dengar, membandingkan catatan, dan berbagi pandangan tentang masa depan. Di sudut ruangan, beberapa siswa masih mengejar narasumber untuk bertanya lebih detail.

Pemandangan itu adalah bukti bahwa sosialisasi malam ini telah berhasil mencapai tujuannya: bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi menginspirasi dan membuka cakrawala. Bagi puluhan siswa MA Al-Zaytun yang hadir, malam Rabu 21 Januari 2026 di Lantai 1 Asrama Al-Fajr mungkin akan mereka kenang sebagai malam di mana mereka mulai membayangkan diri mereka sebagai bagian dari keluarga besar IAI AL-AZIS. (Kasmawati/Humas MA/2026)






Selasa, 20 Januari 2026

Estafet Kepemimpinan: Kepala MA Ma'had Al-Zaytun Beri Arahan Khusus kepada 30 Calon Presiden OPMAZ Darma Bhakti ke-23

AL-ZAYTUN – Kepala Madrasah Aliyah (MA) Ma’had Al-Zaytun menggelar pertemuan silaturahmi khusus bersama 30 santri calon Presiden Organisasi Pelajar Ma’had Al-Zaytun (OPMAZ) Darma Bhakti ke-23. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Pengawas, Lantai 1 Gedung Utsman Ibnu Affan, pada Selasa (20/1/2026).
Acara ini bukan sekadar pertemuan formal, melainkan momentum penguatan ideologi kepemimpinan bagi para kandidat yang akan memimpin ribuan santri lainnya. Kehadiran 30 santri ini merupakan hasil seleksi ketat yang dipersiapkan untuk membawa estafet kepemimpinan dari pengurus sebelumnya.
Dalam pertemuan tersebut, hadir mendampingi Kepala MA, Wakil 1 Kepala Madrasah Aliyah, jajaran Sub Manajer Pendidikan (MP), serta Panitia Pelaksana Pemilihan. Turut hadir pula Presiden dan Wakil Presiden OPMAZ Darma Bhakti ke-22 untuk memberikan gambaran serta motivasi kepada para calon penerus mereka.
Dalam arahannya, Kepala MA, Ustadz M. Soleh Aceng, S.H., M.H., menekankan pentingnya integritas dan dedikasi bagi para calon pemimpin. Silaturahmi ini bertujuan untuk mempererat hubungan emosional sekaligus memberikan pembekalan visi-misi sebelum para kandidat berkompetisi dalam pemilihan resmi.

Persiapan Menuju Pemilihan

Ke-30 calon presiden tersebut tampak antusias menyimak arahan yang diberikan. Setelah sesi silaturahmi ini, para kandidat dijadwalkan akan mengikuti serangkaian tahapan berikutnya, termasuk pemaparan visi-misi dan kampanye dialogis.
Dengan diadakannya pertemuan ini, diharapkan lahir sosok pemimpin yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan manajerial yang tangguh untuk memajukan Organisasi Pelajar Ma’had Al-Zaytun di masa bakti ke-23 mendatang. Pertemuan yang berlangsung khidmat ini diakhiri dengan sesi diskusi antara pihak manajemen madrasah dan para santri calon kandidat mengenai program kerja strategis OPMAZ untuk masa bakti mendatang. (HUMAS MA/2026)








Jumat, 16 Januari 2026

Menuju Kepemimpinan yang Paripurna: 30 Calon Presiden OPMAZ DB ke-23 Jalani Tes Kesehatan

AL-ZAYTUN — Gelaran Pemilihan Raya Organisasi Pelajar Ma’had Al-Zaytun (OPMAZ) Darma Bakti (DB) ke-23 terus bergulir secara sistematis. Pada Jumat (16/1), rangkaian Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Tahap III memasuki agenda krusial, yakni pemeriksaan kesehatan bagi 30 besar Calon Presiden OPMAZ yang berlangsung di Perkhidmatan Kesihatan (PK) Al-Zaytun.

Tahapan ini bukan sekadar formalitas administratif. Di lingkungan yang menuntut disiplin tinggi dan ketahanan kerja ekstra, kesehatan fisik dan mental merupakan prasyarat mutlak. OPMAZ memandang bahwa pemimpin yang tangguh harus memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kematangan ideologis, serta kebugaran jasmani.

 

Standar Objektif dalam Seleksi Pemimpin

Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara profesional oleh tim medis PK Al-Zaytun. Cakupan tes meliputi pemeriksaan fisik umum, mulai dari pengukuran tinggi dan berat badan, tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, hingga tes buta warna.

Langkah preventif ini diambil oleh pengurus OPMAZ Darma Bakti ke-22 untuk memastikan calon penerus mereka memiliki daya tahan dan stabilitas emosi yang stabil. Dalam perspektif kepemimpinan modern, fisik yang prima adalah modal utama untuk menjaga konsistensi kinerja di tengah padatnya agenda organisasi dan institusi.

 

Hasil: 30 Calon Dinyatakan Sehat dan Layak

Berdasarkan hasil pemeriksaan, seluruh kandidat dinyatakan dalam kondisi sehat dan layak untuk melanjutkan kompetisi. Tidak ditemukan kendala medis yang berarti, sehingga seluruh calon dipastikan siap memikul tanggung jawab kepemimpinan ke depan.

Kondisi fisik yang terjaga ini menjadi bukti nyata keberhasilan pola pembinaan di Ma’had Al-Zaytun. Lingkungan yang asri, jadwal aktivitas yang teratur, serta penekanan pada pola hidup sehat terbukti mampu membentuk karakter santri yang tangguh secara lahiriah.

 

Mewujudkan Generasi Bashthotan fil ‘Ilmi wal Jismi

Tuntasnya tes kesehatan ini menandai kesiapan para calon untuk menghadapi fase seleksi berikutnya yang lebih menantang. LDK Tahap III ini menjadi filter untuk menyaring sosok pemimpin yang tidak hanya visioner secara konsep, tetapi juga siap secara totalitas: fisik, mental, dan moral.

Civitas Ma’had Al-Zaytun kini menanti kelanjutan proses demokrasi pelajar ini dengan harapan melahirkan pemimpin yang objektif dan bermartabat. Melalui Pemilihan Raya ke-23 ini, Al-Zaytun kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak generasi yang berilmu luas sekaligus berfisik kuat—sejalan dengan prinsip bashthotan fil ‘ilmi wal jismi. (Aji/Humas MA/2026)














Selasa, 06 Januari 2026

Gema Wahyu di Balik Megahnya Rahmatan Lil’alamin: Catatan Malam Haflatul Qur’an 2026

 AL-ZAYTUN – Kemegahan Masjid Rahmatan Lil’alamin malam itu seolah menemukan ruhnya kembali. Selasa malam (6/1/2026), ribuan pasang mata santri memadati Lantai 1 bangunan ikonik tersebut, menjadi saksi bisu atas suksesnya perhelatan akbar Haflatul Qur’an yang diinisiasi oleh Kementerian Peribadatan Organisasi Pelajar Ma'had Al-Zaytun (OPMAZ) Darma Bhakti ke-22. Acara ini bukan sekadar seremoni pergantian kalender, melainkan panggung pembuktian bagi generasi penjaga wahyu di awal tahun 2026.

Simfoni Visual di Bawah Kubah Megah

Memasuki area masjid, pengunjung langsung disambut oleh pemandangan lautan manusia yang tertib. Barisan santri putra dan putri terpisah dengan rapi, menciptakan kontras visual yang khidmat di bawah langit-langit masjid yang menjulang tinggi. Di tengah suasana masif tersebut, perhatian jamaah tertuju pada panggung utama yang ditata dengan sentuhan estetika tinggi.

Latar belakang hitam pekat dengan kaligrafi emas raksasa bertuliskan "Haflatul Qur’an" memberikan kesan wibawa yang mendalam. Dekorasi balon kuning-putih yang membentuk lengkungan memberikan nuansa selebrasi, sementara layar digital besar di sisi panggung memastikan bahwa setiap detil penampilan dapat dinikmati oleh santri yang berada di barisan paling belakang sekalipun.

Harmoni Seni dan Spiritual

Dinamika acara yang dimulai ba’da Maghrib ini terasa begitu mengalir. Panggung megah tersebut menjadi saksi talenta para santri dalam membawakan seni Islam. Kelompok nasyid dengan seragam merah marun tampil penuh harmoni, membawakan bait-bait pujian yang menyentuh kalbu. Alunan Hadroh yang menggema tak hanya menjadi hiburan, tetapi juga media syiar yang efektif.

Di barisan terdepan, jajaran Mudabbir hingga tim juri tampak menempati kursi sofa, menyimak setiap penampilan dengan saksama. Kedekatan antara pimpinan dan santri dalam acara ini menciptakan atmosfer kekeluargaan yang kental, di mana setiap tepuk tangan dan dukungan dari ribuan santri menjadi suntikan energi bagi rekan-rekan mereka yang sedang berlaga di atas panggung.

Melahirkan Generasi Qur’ani yang Berprestasi

Puncak dari kemeriahan malam itu adalah pengakuan atas dedikasi. Satu per satu pemenang dari berbagai cabang lomba—mulai dari Kaligrafi, Literasi Al-Qur’an, MTQ, hingga Drama Islam—maju dengan bangga. Meliputi jenjang MI, MTs, hingga MA, pemberian sertifikat ini bukan sekadar tanda kemenangan, melainkan simbol estafet perjuangan dalam mensyiarkan nilai-nilai Al-Qur'an di era modern.

Melihat antusiasme yang meluap hingga akhir acara pukul 21.00 WIB, nampak jelas bahwa Haflatul Qur'an telah berhasil menanamkan benih cinta Al-Qur'an yang lebih dalam di hati para santri. Doa bersama yang menutup rangkaian acara ini seolah menjadi pengikat janji bahwa semangat Al-Qur'an akan terus benderang di Ma'had Al-Zaytun sepanjang tahun 2026. (Izzuddin/Humas MA/2026)